Kamis, 04 September 2008

psikology

PERSEPSI

Persepsi adalah proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Persepsi mempengaruhi rangsangan (stimulus) atau pesan apa yang kita serap dan apa makna yang kita berikan kepada mereka ketika mereka mencapai kesadaran.

PROSES PERSEPSI

Persepsi bersifat kompleks. Apa yang terjadi di luar dapat sangat berbeda dengan apa yang mencapai otak. Kita mem[elajari bagaimana dan mengapa pesan-pesan ini sangat berbeda sangat penting untuk memahami komunikasi. Kita dapat mengilustrasikan bagaimana persepsi bekerja dengan menjelaskan tiga langkahyang terlibat dalam proses ini.

Terjadinya Stimulasi Alat Indra (Sensory Stimulation)
Pada tahap pertama alat-alat indra distimulasi (dirangsang): Kita mendengar suara musik. Kita melihat seseorang yang sudah lama tidak kita jumpai. Kita mencium bau parfum orang yang ada di depan kita. Meskipun kiita memiliki kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus (rangsangan), kita tidak selalu menggunakannya. Contoh, bila anda melamun, makan anda tidak akan mendengar apa yang seharusnya anda dengar. Kesimpulannya adalah bahwa kita akan menangkap apa yang bermakna bagi kita dan tidak menangkap yang kelihatannya tidak bermakna.
Stimulasi terhadap Alat Indra Diatur
Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip.salah satu prinsip yang sering digunakan adalah prinsip proksimitas (proximity), atau kemiripan; orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unit). Contih, kita mempersepsikan orang yang sering kita lihat bersama-sama sabagai satu init maka kita anggap sebagai satu pasangan.
Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi
Langkah ketiga dalam proses perseptual adalah penafsiran – evaluasi. Kita menggabungkan istilah ini un tuk menunjukan bahwa istila ini tidak dapat dipisahkan. Proses subjektif ini yang melibatkan evaluasi di pihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-semata didasarkan pada rangsangan luar, melainkanjuga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan,sistem nilai,keyakina tentang yang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.







PROSES YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI

Antara kejadian stimulasi (sampainya sebuah pesan, keberadaan seseorang, senyum, atau lirikan dengan evaluasi atau penafsiran terdadap stimulasi tersebut. Proses-proses uini sangat mempengaruhi apa yang kita lihat dan apa yang tidak kita lihat, apa yang kita simpulkan dan apa yang simpulkan dan apa yang kita tidak dapat simpulkan tentang orang lain.

TEORI KEPRIBADIAN IMPLISIT

Adalah sistem aturan yang mengatakan kepada anda makna karekter yang sesuai untuk karakteristik orangf lain.

WASPADALAH AKAN ADANYA HAMBATAN POTENSIAL
Dua hambatan serius terhadap persepsi yang akurat seringkali timbul apabila seseorang menerapkan teori kepripadian implisit.

1. Mempersepsikan kualitas2 dlm diri seseorang yg menurut "teori" seharusnya dimilikinya,padahal kenyataannya tdk demikian.
Cth:kita melihat niat baik dlm sikap dermawan namun sebenarnya,ia ingin mengurangi beban pajaknya.
2. Mengabaikan kualitas dan karakteristik yang tidak sesuai dengan teori kita. Misalnya kita mungkin mengabaikan kualitas negatif pada diri kawan kita padahal kualitas padahal kualitas tersebut dengan cepat akan kita lihat pada diri lawan kita.

RAMALAN YANG TERPENUHI DENGAN SENDIRINYA
terjadi bila kita membuat perkiraan atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena kita meramalkannya dan bertindak seakan-akan itu benar
ada 4langkah dasar dalam proses ini:

1. Kita membuat prediksi atau merumuskan keyakinan tentang seseorang atau situasi. Misalnya kita meramalkan dia adalah orang yang canggung dalam situasi antar pribadi.
2. Kita bersikap kepada orang atau situasi tersebut seakaniakan ramalan atau keyakinan kita itu benar. Misalnya:di depan dia kita bersikap seakan-akan dia memang orang yang canggung.
3. Karena kita bersikap demikian (seakan-akan keyakina kita benar), ia menjadi kenyataan. Misalnya, karena cara kita bersikap didepan dia, dia menjadi tegang dan salah tingkah dan itu menunjukan kecanggungan.
4. Kita mengamati efek kita terhadap seseorang atau akibat terhap situasi, dan apa yang di saksikan memperkuat keyakina kita. Misalnya kita menyaksikan kecanggungan dia, dan itu memperkuat keyakina kita bahwa dia orang yang canggung.

jika kita menghadapi seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu atau jika kita meramal tentang sesuatu karakteristik atau situasi, ramalan kita seringkali menjadi kenyataan karena adanya rasa yang terpenuhu dengan sendirinya ini. Misalnya seseorang yang memasuki kelompok tertentu, merasa yakin bahwa anggota-anggota kelompok itu tidak menyukai, hampir selalu ini benar-benar terjadi. Barangkali karena dia bertindak demikian sehingga merangsang para anggota kelompok bertindak negatif.
Hal diatas biasa dikenal dengan efek pigmalion (pygmalion effect)




Hambatan potensial
ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya akan menimbulkan dua hambatan:
1. Mempengaruhi perilaku orang lain sehingga sesuai dengan ramalan kta.
2. Melihat apa yang diramalkan ketimbang apa yang sebenarnya. Misalnya, ini dapat membuat percaya karena ramalan itu kita buat, bukan karena adanya kegagalan yang aktual, menganggap dirinya gagal.

Aksentuasi perseptual
adalah membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan apa yang kita inginkan.

Hambatan potensial
Aksentuasi potensial dapat menimbulkan berbagai hambatan. Kecendrungan kita untuk mempersiapkan apa yang kita inginkan atau butuhkan akan membuat kita.
1. Mendistorsi persepsi kita tentang realitas, membuat kita melihat apa yang kita butuhkan, yang kita inginkan ketimbang apa yang nyatanya ada, dan tidak melihat apa yang tidak ingin kita butuhkan
2. Menyaring atau mendistrosi informasi yang mungkin merusak atau mengancam citra-diri dengan demikian sangat mempersulit upaya peningkatan diri.
3. Memandang orang lain memiliki karakteristik atau kualitas negatif yang sebenarnya ada pada kita-hal tersebut dinamai dengan proyeksi.
4. Melihat dan mengingat kualitas atau karakteristik positif lebih daripada yang negatif.
5. Merasakn perilaku tertentu dari orang lain sebagai menunjukan bahwa ia menyukai kita karena sebenarnya kita ingin disukai.

Primari-Resensi
jika yang muncul pertama kali lebih kuat pengaruhnya, kita mengalami apa yang dinamakan efek primasi (primacy effect). Jika yang muncul terakhir (atau yang paling baru) lebih kuat pengaruhnya, kita mengalami efek resensi (recency effect)
implikasi praktis dari efek primasi-resensi ini adalah bahwa kesan pertama yang tercipta tanda paling penting. Melalui kesan pertama ini, orang lain akan menyaring tambahan informasi untuk merumuskan gambaran tentang seseorang yang mereka persepsikan.





Hambatan-hambatan potensial
Primasi -resensi dapat menimbulkan dua hambatan utama:
1. Merumuskan gambaran menyeluruh tentang seseorang berdasarkan kesan awal yang belum tentu akurat. Contoh, kita mungkin menangkap citra bahwa seseorang itu tidak pandai berkomunikasi. Jika kesan ini didasarkan pada pengamatan terhadap orang ini selama wawancara pekerjaan yang menegangkan, boleh jadi kesan kita keliru.
2. Mendistorsi persepsi yang datang kemudian untuk datang kemudian untuk tidak merusak kesan pertama kita.



KONSISTENSI
Konsistensi menggambarkan kebutuhan anda untuk memelihara keseimbangan diantara sikap-sikap anda. Anda memperkirakan bahwa hal-hal tertentu selalu muncul bersa-sama dan hal -hal lain tidak akan muncul bersama-sama.

Hambatan potensial
Konsisitensi dapat menimbulkan tiga hambatan utama
1. Mengabaikan atau mendistorsi persepsi tentang perilaku yang tidak konsisten gambaran kita mengenai seseorang secara utuh.
2. Mempersiapkan perilaku spesifik sebagai terpancar dari kualitas positif orang yang kita lihat dan dari kualitas negatif orang yang tidak kita sukai.
3. Melihat perilaku tertentu sebagai positif jika perilaku yang lain ditafsirkan sebagai positif atau sebagai negatif jika perilaku yang lain ditafsirkan secara negatif.

STEREOTIPING
Jalan pintas yang sering digunakan dalam persepsi adalah stereotiping. Awal mula istilah ini ada di dalam bidang percetakan yang mengacu pada suatu pelat yang mencetak (gambar atau tulisan) yang sama berulang-ulang. Streotipe sosiologis atau psikologis adalah citra yang melekat atas sekelompok orang. Kita semua mempunyai stereotipe atitudinal – tentang kelompok-kelompok agama, kelompok ras, atau barangkali tentang kaum penjahat, kaum tuna susila, guru, tukang pipa.

Hambatan potensial
Stereotipe dapat menimbulkan dua hambatan:

1. Mempersepsikan seseorang seakan-akan memiliki kualitas-kualitas tertentu (biasanya negatif) yang kita yakini merupakan ciri kelompok dimana dia menjadi anggotanya.
2. Mengabaikan ciri khas yang dimiliki seseorang dan, karenanya tidak mampu menarik manfaat dari kontribusi khusus yang dapat diberikan setiap pihak dalam suatu perjumpaan.


MEMBUAT PERSEPSI LEBIH KUAT

Efektifitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam persepsi antarpribadi.

Srategi Untuk Mengurangi Ketidakpastian

Strategi Pasif
Bila kita mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati maka kita menerapkan strategi pasif.
Strategi Aktif
Bila anda secara aktif mencari informasi tentang seseorang dengan cara apapun selain berinteraksi dengan orang itu, anda menerapkan strategi aktif.
Strategi Interaktif
Bila kita sendiri berinteraksi dengan seseorang, kita menerapkan strategi interaktif.

Ketiga strategi ini bermanfaat untuk mengurang ketidakpastian anda mengenai orang lain. Banyak orang merasa bahwa mereka sudah cukup mengenal seseorang setelah menerapkan strategi pasif. Strategi aktif lebih bersifat mengungkapkan, dan strategi interaktif lebih banyak mengungkapkan. Menerapkan ketiga macam strategi ini akan membuat persepsi anda seakurat mungkin.

PEDOMAN UNTUK MENINGKATKAN AKURASI PERSEPSI

Carilah berbagai petunjuk yang menunjukan kearah yang sama. Maki banyak petunjuk konseptual yang menuju kearah yang sama, makin besar kemungkinan kesimpulan anda benar.
Rumuskanlah hipotesi. Ujilah hipotesis ini untuk mendapat informasi dan bukti-bukti tambahan, jangan menarik kesimpulan yang nantinya anda akan konfirmasikan.
Perhatikanlah khusunya petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, petunjuk yang akan anda lihat pada hipotesa awal anda. Akan lebih mudah menerima petunjuk yang mendukung hipotesa ketimbang menerima petunjuk yang menentang.
Jangan menarik kesimpulan sampai anda memiliki kesempatan untuk memproses bagian yang anda dapat dari petunjuk.
Hindari membaca pikiran orang lain
Jangan menganggap orang lain seperti anda, sadarilah keragaman manusia
Waspadalah terhadap bias anda sendiri, hanya menerima hal-hal positif diri orang yang anda sukai dan hanya menerima hal-hal negatif pada diri oang yang tidak anda sukai.




ATRIBUSI / PENYEBAB

Atribusi adalahproses dengan mana kita memahami perilaku orang lain selain juga perilaku kita sendiri. Kita khusunya berusaha memahami alasan atau motivasi perilaku-perilaku ini.
Langkah pertama kita dalam mengungkapkan sebab-sebab perilaku orang lain adalah menentukan apakah orangf ini sendiri atau faktor-faktor luar tertentu yang menyebabkan perilaku tersebut. Artinya kita harus menentukan apakah penyebab perilaku itu bersifat internal atau eksternal. Perilaku internal disebabkan oleh kepribadian atau kemampuan seseorang. Perilaku eksternal disebakan oleh faktor situasi tertentu.

IKHTISAR KONSENSUS, KONSISTENSI DAN KEBERADAAN DALAM PENCARIAN SEBAB

Situasi: seorang mahasiswa terlihat sedang melakukan protes atas nilai yang diterimanya dalam mata kuliah filsafat. Atas dasar apa mahasiswa akan memutuskan apakah perilaku ini desebabkan oleh faktor eksternal atau internal?

Internal jika

tidak ada mahasiswa yang melakukan protes (konsensus rendah)
Mahasiswa ini pernah melakukan protes juga di waktu yang lalu (konsistensi tinggi)
Mahasiswa ini juga melakukan protes kepada dosen lain di mata kuliah yang lain (keberadaan rendah)

Eksternal jika

Banyak mahasiswa lain yang juga melakukan protes (konsistensi tinggi)
Mahasiswa ini tidak pernah melakukan protes di waktu lalu (konsistensi tinggi)
Mahasiswa ini tidak pernah melakukan protes kepada dosen lain ( keberbedaan tinggi)

Keberbedaan

Keberbedaan tinggi membuat kita menyimpulkan bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal.

ATRIBUSI-DIRI (SELF-ATTRIBUTION)

Atribusi-diri bila anda berusaha menilai perilaku anda sendiri yang mengikuti pola atribusi yang umum, dengan dua perbedaan pokok. Pertama, perilaku orang lain seakan-akan disebabkan oleh faktor-faktor internal, sedangkan perilakunya seakan-akan disebabkan oleh faktor-faktor eksternal.
Pokok kedua, sikap inghin menang sendiri. Sikap ini membuat orang mengaku-aku untuk hal positif yang menghindari tanggung jawab untuk hal-hal negatif.

1 komentar:

Abdi Mahsa Rizqi mengatakan...

Terima kasih materinya. Mungkin sebaiknya referensinya dicantumkan.